Sabtu, 25 April 2009

Kemilau Emas Pangkep Masa Lampau dan Masa Kini

DALAM Sebuah diskusi terbatas sejarah bertema ”Menyusuri jejak sejarah Kerajaan Siang” yang dihadiri Ketua – ketua Jurusan Sejarah seluruh Indonesia beserta puluhan mahasiswa jurusan sejarah yang ikut serta rekreasi di Taman Suaka Purbakala Sumpangbita – Balocci tahun 2008 lalu , saya yang menjadi pemateri ---- meskipun sebenarnya belum pantas menjadi pemateri ---- bersama HM Taliu, BA (salah seorang budayawan daerah ini). Saat itu saya menantang (lebih tepatnya memohon) para dosen, guru besar, dan mahasiswa sejarah yang hadir tersebut agar lebih memperhatikan Pangkep. Tepatnya lebih banyak memusatkan konsentrasi dan wilayah penelitiannya di Pangkep sebagai daerah potensial kajian dan penelitian sejarah. Setidaknya ada lima pointer yang saya kemukakan, yang juga merupakan ’tantangan dan peluang besar’ penelitian sekaligus renungan bagi kita semua. Kelima pointer yang saya kemukakan tersebut, yaitu :
Pertama, Saya kemukakan bahwa beberapa waktu lalu, Pemkab Pangkep mengumumkan telah ditemukannya sumber emas di daerah Tondong Tallasa. Bahkan saat ini sudah dalam tahap eksplorasi, selain minyak di Blok Segeri dan Blok Sepanjang, Liukang Tangaya. [Untuk penemuan sumber emas, hal ini merupakan penemuan baru dari fakta lama]. Dari beberapa sumber tertulis sejarah daerah ini yang diperoleh dari catatan para pelaut Portugis saat menyinggahi Pelabuhan Kerajaan Siang. Dalam laporan Antonio de Payva saat mengunjungi Siang, dalam dua kali kedatangannya, 1542 dan 1544 disebutkan bahwa salah satu alasan mengapa pelabuhan Siang ramai dikunjungi para pedagang Portugis yang mengikuti rute pelayaran Orang – orang Melayu (dari Johor, Malaka, Minangkabau, bahkan dari Patani) ke nusantara bagian timur adalah karena Siang kaya dengan berbagai hasil hutan, pertanian, peternakan dan sumber emas. Jadi, penemuan sumber emas ini ada konfirmasinya dalam sejarah.
Lalu, jika kita membaca buku ” Salokoa - Mahkota Kerajaan Gowa ” karya M Masrury, dkk, Editor : Aminah Pabittei yang diterbitkan Bagian Proyek Pembinaan Permeseuman Sulawesi Selatan (1996 / 1997) disebutkan bahwa salah satu dugaan sumber pengambilan emas yang terdapat pada mahkota Raja Gowa, Salokoa, adalah berasal dari Siang (Pangkep), bahkan penulisnya lebih merinci lagi bahwa Pangkep masa lampau bukan hanya kaya dengan sumber emas, tapi penduduknya sangat ahli sebagai pengrajin emas. Dugaan lainnya bahwa mahkota Salokoa dahulunya adalah milik Somba Lombasang tetapi setelah Lombasang dijadikan bawahan Gowa dan diganti namanya menjadi Labakkang, maka mahkota Salokoa itu pun diboyong ke Gowa. Jadi, penemuan sumber emas di Pangkep sekarang ini menegaskan kepada kita bahwa sejarah telah sampai kepada kita lewat fakta baru yang menggembirakan. Penemuan sumber emas sekarang ini seharusnya memancing perhatian kita akan masa lampau Pangkep yang kemilau --- yang seharusnya menantang para peneliti sejarah untuk lebih memperhatikan kemilau Pangkep masa kuna Kerajaan Siang [1]. Perdagangan kayu cendana (sandalwood) dan emas bukan lagi perdagangan biasa, saat kita disuguhkan data dari catatan perjalanan Portugis lainnya, Manuel Pinto, bahwa jumlah penduduk Siang ketika itu sekitar 40.000 jiwa dan penguasa Siang sangat yakin terhadap sumber – sumber daya dan kekayaan alam yang dimilikinya sehingga dia menawarkan untuk menyuplai seluruh kebutuhan pangan Kerajaan Malaka [2] paska Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511) di Bagian barat kepulauan nusantara.
Kedua, Saya memohon kepada Bapak Ibu Guru Besar, Dosen dan Peneliti sejarah, karena ini dari seluruh Indonesia, saya mewakili generasi muda Pangkep memohon kepada bapak ibu yang hadir disini agar kami dibantu. Kami kehilangan salah satu benda peninggalan sejarah terpenting daerah ini, yaitu topeng emas dari situs Matojeng. Disini, pada masa pemerintahan Bupati (Kol) Hasan Sammana (1979 - 1984), pernah ada permintaan dari Panitia Pameran Sejarah Budaya di Jakarta untuk memamerkan semua peninggalan sejarah budaya Sulawesi Selatan. Waktu itu, mereka minta Nekara dari Selayar tapi tidak dikasih, Salokoa dari Gowa juga diminta tapi juga tidak dikasih, semua daerah di Sulawesi Selatan dimintai untuk menghadirkan benda – benda peninggalan sejarah budayanya. Ketika itu diminta topeng emas situs Matojeng dari Pangkep, dan mungkin karena kita ini orang baik – baik, percaya begitu saja dan berbaik sangka sama orang, maka pihak pemerintah daerah ketika itu langsung menyetujuinya. Dan alhasil, sampai sekarang, sampai hari ini, topeng emas dari situs Matojeng, peninggalan sejarah budaya terpenting [3] daerah ini tidak kembali - kembali.
Sebagai generasi muda Pangkep, saya sendiri sekarang tidak tahu harus menyalahkan siapa. Barangkali diantara bapak ibu yang hadir disini sekembalinya di tempatnya masing – masing ada yang mengetahui keberadaan benda peninggalan sejarah tersebut dapat menghubungi Pemkab Pangkep atau Dinas Pariwisata dan Budaya daerah ini.
Ketiga, Beberapa waktu lalu saya membaca berita penyelenggaraan Seminar Nasional Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Selatan di PKP UNHAS. Hasil seminar tersebut selain layak diragukan, sebagaimana keraguan para sejarawan itu sendiri yang hadir karena masalah penentuan masuknya islam di Sulawesi Selatan yang tidak kunjung usai dan menemui debat panjang, sehingga direkomendasikan seminar ulang. Keraguan para peserta seminar itu karena masalah penentuan masuknya islam di Sulawesi Selatan yang melulu terpaku pada islamisasi Kerajaan Gowa (1667), yang ditandai dengan shalat jum’at pertama di Masjid Katangka, yang juga merupakan momen pemberian nama islam kepada Raja dan Mangkubumi Gowa, Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah awwalul Islam. Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) inilah juga yang dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kota Makassar. Sepengetahuan saya yang awam sejarah ini, tidak mungkin Buton lebih dulu menerima Islam dari Makassar sedangkan fakta sejarah menyuguhkan kepada kita bahwa Orang Bugis Makassar yang membawa Islam ke Buton. Bagaimana pula para pemerhati, dosen dan peneliti sejarah lupa akan fakta sejarah yang penting, sebagaimana ditulis Abidin, Pelras, Mattulada, Andaya, Noorduyn serta hasil – hasil penelitian sejarah dan arkeologi mutakhir.
Dalam catatan Portugis, saat kedatangan Antonio de Payva di Siang (1542 dan 1544), selain untuk kepentingan ekonomi perdagangan, dia juga datang untuk menyebarkan kristianisme di Siang. Namun saat kedatangannya tersebut ia terkejut menyaksikan pemandangan yang sangat indah, yaitu permukiman pedagang melayu muslim di sepanjang pesisir pantai barat Siang. Dia malahan mendapat informasi mengenai keberadaan komunitas Melayu itu telah bermukim puluhan tahun, bahkan sudah hidup berdampingan dengan penduduk setempat. Sampai saat ini jejak budaya dan warisan bahasa melayu itu masih hidup sampai sekarang. Mereka tidak mau kehilangan panggilan khas, ’Enci’ yang berarti paman dalam Bahasa Melayu. Sebutan ini mendapatkan penyesuaian bahasa yang sangat khas, yaitu ”Ince” atau ”Unda”. Ini berarti bahwa Siang (Pangkep) lebih dulu menerima Islam. Ketika Siang tidak strategis lagi secara ekonomi karena pengendapan dan pendangkalan pelabuhannya selama 800 tahun, fungsi tersebut telah diambil alih Pelabuhan Sombaopu di sebelah selatannya. Siang kemudian dengan mudah dijadikan daerah bawahan Gowa. Kejatuhan Siang, memberi Gowa tenaga pakar bidang pertanian padi sawah, kayu, besi dan ahli emas (yang sebagian besar orang Melayu). Di belakang hari, tenaga – tenaga ahli dari Siang inilah yang dimanfaatkan Gowa dalam membangun benteng – benteng pertahanan dan memajukan sektor ekonomi pertaniannya bahkan Gowa membuka Kampung Mangallekana sebagai kampung khusus komunitas Melayu di Gowa. Dalam sejarah Gowa, kita juga mengenal Ince Amin (seorang Melayu) yang mendapatkan kedudukan sangat terhormat sebagai sekretaris Sultan Hasanuddin dan penulis syair Perang Makassar.
Keempat, Masalah Pembagian wilayah bahasa (etno-linguistik) yang selama ini dipakai dan dijadikan rujukan penulisan sejarah, kebudayaan dan penelitian bahasa daerah barangkali perlu direvisi dan dikaji ulang. Karena hal itu tidak cocok dengan fakta sosial masyarakat Pangkep. Daerah – daerah atas seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, dan seterusnya dimasukkan dalam daerah – daerah etnis - bahasa Makassar, sedangkan daerah – daerah bawah mulai Barru, Pare-Pare, Sidrap, Bone, Soppeng (terkecuali Toraja) dimasukkan ke dalam Daerah etnis - bahasa Bugis. Untuk Pangkep dan Maros disebutkan sebagai daerah peralihan, yaitu daerah etnis - bahasa Bugis dan Makassar sekaligus. Pembagian wilayah bahasa seperti terlalu sederhana dan tidak mendalam dari segi penelitian kebahasaan dan kesejarahan, apalagi dengan adanya sub etnis tertentu pada beberapa daerah tertentu. Di forum yang berbahagia, saya ingin menyatakan bahwa Pangkep bukanlah daerah Bugis Makassar. Ini barangkali betul kalau hanya dilihat aspek daratannya, tanpa jika melihat pulau – pulaunya. Pangkep adalah daerah ragam budaya dan bahasa (multi-kultur, multi etnis dan multi lingua). Di daerah ini, selain daratannya, terdapat sebanyak 112 pulau berpenghuni dengan etnis dan bahasa Mandar serta sedikit Bajoe’ pada beberapa pulau di Liukang Tangaya. Karena itu, kami juga sangat mengharapkan dan memohon bantuan bapak – ibu yang hadir, termasuk mahasiswanya disini untuk menjadikan pulau sebagai konsentrasi penelitian budaya dan kebahasaan yang majemuk, unik dan langka tersebut. Di Pulau akan kita temukan keunikan bahasa yang Makassar tapi bukan Makassar, yang Bugis tanpa bukan Bugis betulan. Beberapa peneliti bahasa menggolongkannya dalam Bahasa Konjo Pesisir.
Kelima, Saat surfing di internet beberapa waktu lalu, saya termasuk penggemar situs wikipedia Ensiklopedia berbahasa Indonesia dan melayu yang paling banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa sampai dosen di seluruh Indonesia. Jika kita Search di Google atau Yahoo mengenai Daftar Kerajaan di Indonesia maka salah satu situs yang muncul adalah situs Wikipedia yang menyajikan data bahwa di Indonesia ini, terdapat sekitar 400 kerajaan yang pernah hidup, berkembang dan mengalami pasang surut masa pertumbuhan serta masa keemasan. Namun sayangnya, dari ratusan kerajaan tersebut tidak satupun disebutkan adanya Kerajaan Siang di Pangkep (Sulawesi Selatan), padahal kerajaan ini diakui Kerajaan Makassar pertama di semenanjung barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa – Tallo dan Kerajaan Ussu (Luwu) sebagai Kerajaan Bugis pertama di semenanjung timur Sulawesi Selatan[4]. Karena itu lewat forum yang berbahagia ini, saya mengusulkan alangkah fairnya jika ada pengakuan dari dunia perguruan tinggi mengenai salah satu bagian terpenting dari perjalanan Sejarah Sulawesi Selatan. Barangkali kita bisa mengawalinya lewat penyelenggaraan pra seminar sebelum Seminar Nasional, sehingga nantinya juga ada pengakuan secara nasional.
Pangkep masa lampau berkilauan emas dan telah menggoreskan catatan tinta emas dalam sejarahnya. Jika kita tarik benang merahnya dengan apa yang seharusnya kita lakukan, adalah berbuat lebih baik untuk kembali menorehkan catatan penting dalam goresan sejarah. Daerah ini potensi sumber daya alamnya melimpah ruah, di laut (kepulauan) dan di pegunungan. Pengelolaannya pun memerlukan kearifan budaya. Tenggelamnya kebesaran nama Siang tidak seharusnya membuat kita berkecil hati karena sejarah baru pasti akan tergoreskan, bahkan mungkin akan lebih kemilau jika kita kembali menengok satu bagian catatan sejarah terpenting, yaitu konsensus lokal antara raja Gowa dan Bone di Abad XVI yang ketika itu kedua kerajaan ini boleh dikata menikmati masa keemasan sebagai penguasa di semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan (menggantikan Siang dan Luwu) sehingga Perjanjian yang disepakati keduanya (Ulu Ada’) dapat dianggap mewakili seluruh kerajaan yang ada sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan yaitu perjanjian bahwa jika keduanya menemukan jalan hidup lebih baik maka yang satu memberi tahukan yang lain. Dan ternyata sejarah kemudian membuktikan jalan hidup yang dinanti itu adalah Islam [5].
Terlepas dari strategi politik – kekuasaan Gowa – Tallo di masa lalu dengan menjadikan Islam sebagai alasan perang. Islam sebenarnya adalah amanah sejarah dan amanat tu-riolo Bugis Makassar. Islam datang ke Sulawesi Selatan melalui pintu perdagangan dan politik sekaligus. Kedatangan Datu Tallua secara ajaib juga adalah amanah pelaut dan perantau Bugis yang menginformasikan tentang kampung halaman yang ditinggalkannya. Fakta sejarah ini tidak terbantahkan karena Bugis Makassar masa lampau telah lama masuk dalam jaringan perdagangan interinsuler dan punya koneksi yang luas dengan daerah – daerah lainnya di nusantara ini. Lewat Islam pula, kita berharap, kemilau Pangkep dan bahkan kemilau Sulawesi Selatan ---kini dan yang akan datang--- akan muncul ke permukaan. (rid)

Catatan Kaki :
[1] Dengan fakta, terasosiasinya obyek – obyek emas dan keramik – keramik kuna di teritori Siang memberi keyakinan bahwa Siang mempunyai sejarah yang tua, sejak abad XIV atau paling belakangan pada abad XV, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga politik sebelum menaiknya Gowa dalam pentas sejarah Sulawesi Selatan. Dugaan itu mempunyai estimasi bahwa mungkin Siang mengacu pada apa yang dilukiskan orang dengan istilah Makassar (Macacar). Lihat. Fadillah et. al, 2000 : 100.
[2] Lihat. Pelras, 1973 : 53, Abidin, 1973, Pelras, 1981, Ferrand, 1913-4, Andaya, 1981, Fadillah, et.al, 2000.
[3] Topeng emas dari Situs Matojeng ini saya katakan sangat penting bukan hanya karena pernah disinggung Nugroho Nutosusanto, et. Al (1992) dalam Sejarah Nasional Indonesia 1 – 3 (untuk SLTA) namun juga mengabarkan kepada kita tentang kepercayaan kuna masyarakat Pangkep masa lampau terkait praktek penguburan dan arah hadapnya.
[4] Lihat. Andaya, 1981, Pelras, 1973, dan banyak lagi sumber lainnya.
[5] Perjanjian Ulu Ada’ ini pulalah yang dijadikan dasar oleh Gowa untuk memerangi seluruh kerajaan dan negeri yang tidak mau takluk kepadanya. Perang dan penaklukan yang dilancarkannya disebut ’Musu Sellenge’ atau ’Musu Kasallangang’ (Perang Pengislaman). Oleh Bone, alasan Perang Gowa ini dikatakan sebagai alasan saja untuk menutupi maksudnya untuk menjadi penguasa seluruh semenanjung karena jauh sebelum islamisasi Gowa-Tallo, peperangan antara Bone dan Gowa sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange dan Raja Gowa Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Lihat. Andaya, 1981.

Sumber :
Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kelahiran Pangkep. Penerbit Pemkab Pangkep