Sabtu, 25 April 2009

Sejarah Kekaraengan Mandalle

La Pallawarukka Daeng Mallawa, Regent Mandalle. Wafat tahun 1909. (Sumber lukisan : Maddusila AM)

PADA mulanya kekaraengan Mandalle terbentuk dari peleburan tiga persekutuan hukum adat yang didirikan oleh orang Bugis, yaitu Katena, Mallawa, dan Mandalle. Menurut cerita, yang pertama – tama berdiri ialah Katena yang melingkupi daerah Kampung Boddie, Katena, Manggalung, Macciniajo, dan LokkaE. Arajang dari Katena adalah sebilah bajak (rakkala). Kemudian barulah berdiri persekutuan hukum Mallawa dan persekutuan hukum Mandalle. Dalam Abad XVII, ketiga persekutuan hukum adat itu mengakui kekuasaan tertinggi (souverniteit) dari Kerajaan Gowa. (Benny Syamsuddin, 1985).
Kepala persekutuan Mandalle digelar pada waktu itu Lokmo. Menurut nota Admiral Cornelis Speelman, Tahun 1669, persekutuan – persekutuan hukum adat Katena, Mallawa dan Mandalle, pada waktu itu tidak lagi masuk daerah kekuasaan Gowa, akan tetapi masuk daerah kekuasaan Kerajaan Tanete, keadaan mana berjalan sampai tahun 1824, yaitu sewaktu Belanda menaklukkan Tanete dalam suatu peperangan. Antara Tahun 1824 dan 1829 ketiga persekutuan hukum adat tersebut, menjelma menjadi satu keregent-an (regentschap) dengan nama Mandalle. Yang mula – mula menjadi Kepala Regent di Mandalle ialah Mallewai Daeng Manimbangi, anak dari La Abdul Wahab Mattotorangpage Daeng Mamangung (kemudian digelari MatinroE ri Lalengtedong) di daerah Laut, yaitu seorang keturunan dari Raja Tanete dan Luwu. Beliau adalah putera dari Datu Marioriwawo yang bernama La Mauraga Daeng Malliungang (Matinroe ri Mallimongang).
Dalam Lontara’ Bilang (Buku Harian) Raja Gowa dan Tallo’, tercatat bahwa Lokmo Mandalle berangkat dengan tidak lebih dari Sembilan perahu ke Bima dan menaklukkan kerajaan itu. Setelah La Mallewai Daeng Manimbangi wafat (MatinroE ri Kekeang) dalam tahun 1848, maka beliau digantikan oleh puteranya yang bernama La Sumange Rukka Karaeng Kekeang. Dalam tahun 1861, beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama La Pallawarukka Daeng Mallawa. Sewaktu beliau wafat dalam tahun 1909, Keregent-nan Mandalle dihapuskan dan digabungkan dengan Keregent-nan Segeri dengan surat keputusan Gubernoumen tanggal 27 Juni 1910 N0. 34.
Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada Tahun 1819, Mandalle dicabut dari Keregent-nan Segeri dan dijadikan kembali sebagai kekaraengan yang berdiri sendiri sebagaimana telah dijelaskan di awal. Yang diangkat menjadi Karaeng di Mandalle, menurut surat penetapan Gubernur Celebes dan daerah takluknya tanggal 18 Desember 1819 No. 241/XIX ialah La Dongkang Daeng Massikki yang beristerikan I Tuwo Petta Boddi, puteri dari Regent Mandalle, La Pallawarukka Daeng Mallawa. La Dongkang Daeng Massikki adalah putera dari Kepala Regent Pangkajene, La Djajalangkara Daeng Sitaba, cucu dari La Abdul Wahab Mattotorangpage Daeng Mamangung tersebut dari garis keturunan La Mauraga Dg Malliungang Datu Mario ri Wawo Matinroe’ ri Malimongang, Tahun 1801.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Menurut Staatsblad (lembaran Negara No. 352 tahun 1916, ditetapkan Onderfadeeling Pangkajene, terdiri dari lima district adat, yaitu gemeenschap (kekaraengan) Pangkajene, Labakkang, Balocci, Ma’rang dan Segeri. Nanti pada Tahun 1918, atas dasar surat dari “Eeste Gouvneur Sekretaries, 4 Agustus 1917 maka Gouverneur van Celebes en Ondehorigheden (Gubernur Celebes dan daerah takluknya melalui suratnya tanggal 13 Juli 1918, No.124 / XIX memecah wilayah adat gemeenschap Segeri menjadi wilayah adat gemeenschap Segeri dan wilayah adat gemeenschap Mandalle.
Dengan demikian, resmilah Mandalle sebagai salah satu dari tujuh wilayah karaeng adatgemeenschap Onderafdeeling Pangkajene, setelah dua hari sebelumnya juga telah dilakukan pemecahan wilayah adat gemeenschap Pangkajene, ditambah wilayah karaeng adatgemeenschap Bungoro. Kekaraengan Mandalle dalam Tahun 1920 diketahui terdiri atas 15 Kampung (Benny Syamsuddin, 1985), yaitu :
1. Kampung Katena
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
2. Kampung Macciniajo
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
3. Kampung Boddie
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
4. Kampung Malawa
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
5. Kampung Topong
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
6. Kampung Lokkae
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
7. Kampung Manggalung
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
8. Kampung Gallaraja
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
9. Kampung Gallalau
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
10. Kampung Mandalle
(Kepala Kampungnya bergelar Gallarang) ;
11. Kampung Tamarupa
(Kepala Kampungnya bergelar Jennang) ;
12. Kampung Kekeang
(Kepala Kampungnya bergelar Jennang) ;
13. Kampung Mangaracamlompo
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa) ;
14. Kampung Mangaracamcaddi
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa)
15. Kampung Lamasa
(Kepala Kampungnya bergelar Matowa).
Beberapa Karaeng Mandalle yang populer dan masih segar dalam memori masyarakat Mandalle ialah La Dongkang Daeng Massikki (Karaeng Mandalle, 1918) [1], yang kemudian digantikan oleh puteranya, Andi Mandatjingi [2]. Karaeng Andi Mandacingi dikawinkan dengan Tenri Olle, seorang puteri bangsawan dari seorang kerabatnya dari Maros. Kemudian ia menikah lagi dengan Andi Amatullah Sompa Warune, puteri Andi Singkeru Rukka Arung Ujung Soppeng [3]. Dari perkawinan Andi Mandacingi dengan Andi Amatullah Sompa Warune ini menurunkan putera puterinya, yaitu Andi Dharifah Tenri Awaru (1940), Andi Saiful Muluk Tenri Angka (1942), Andi Fahru Pallawa Rukka (1945), Andi Haerul Muluk Sumange Rukka (1947), Andi Nohar Tenri Esa (1950), Andi Ajaib Singkeru Rukka (1956), dan Andi Syafril Hazairin Tappu Rukka (1963). Pada masa menjalankan pemerintahan sebagai Karaeng Mandalle, Andi Mandacingi juga merangkap Ketua Dewan Hadat Pangkajene saat kekaraengan Pangkajene dipegang oleh Andi Burhanuddin, beliau kemudian digantikan oleh adiknya bernama Andi Sakka sebagai Karaeng Mandalle yang terakhir.


Catatan Kaki :
[1] La Dongkang Daeng Massikki ini bersaudara dengan La Mauraga Dg Malliungang dan La Mattotorang Dg Mamangung (keduanya Karaeng Pangkajene). Ketiganya adalah anak dari Karaeng Pangkajene, La Djajalangkara Dg Sitaba, Karaeng Pangkajene, 1873 dari garis keturunan La Pappe Daeng Massikki (Karaeng Pangkajene Matinroe ri TumampuE, 1857/1885) yang juga bersaudara dengan La Mallewai Dg Manimbangi (Karaeng Mandalle, 1829) dari garis keturunan La Abdul Wahab Mattotorangpage Dg Mamangung Karaeng Segeri Karaeng Lau ri Marusu Matinro-E ri Lalengtedong, 1829. (Benny Syamsuddin, 1989 : 36). La Dongkang Dg Masikki berputera puteri 4 orang, yaitu Andi Mandacingi, Tenri Kawari Karaeng Bau, diperisterikan oleh Andi Mappe Dg Massikki Karaeng Lau ri Marusu, Andi Sakka Petta Lolo (Sullewatang Mandalle), dan Andi Enrekang (Petta Enre).
[2] Andi Mandacingi, sebagaimana sepupu satukalinya, Andi Burhanuddin, Karaeng Pangkajene (1942-1946) adalah pejuang dan perintis kemerdekaan RI, beliau berdua adalah pelopor berdirinya Barisan Pemuda Merah Putih (BPMP), organisasi kelaskaran dan kejuangan di Pangkep yang gesit melawan Belanda dan Pasukan Sekutu (NICA). Setelah keduanya tidak aktif lagi sebagai Karaeng Mandalle dan Karaeng Pangkajene mereka diminta sebagai residen diperbantukan di Kantor Gubernur Sulawesi. (Makkulau, 2007).
[3] Andi Amatullah Sompa Warune, yang diperisterikan Andi Mandacingi adalah seorang puteri bangsawan yang terpelajar, lulusan pendidikan HIS di Sengkang sehingga beliau banyak memahami dan membantu suaminya dalam perjuangan kemerdekaan. Andi Amatullah Sompa Warune adalah puteri pasangan Andi Singkeru Rukka Arung Ujung Soppeng dengan Andi Cakkupe puteri dari La tenri Dolong Baso Bila Datu Citta. Tenri Dolong sendiri adalah putera dari La Mattalatta Arung Bila dengan isterinya Datu Walie Petta Bulu Langi. La Mattalatta putera dari Taggamette Datu Citta dengan isterinya I Hindong Arung Bila puteri La Pute Isi. Adapun Tagamette bersaudaranya diantaranya La Patau Datu Tanete adalah putera dari La Maddusila To Pangewa Datu Tanete dengan isterinya Tenri Seno ( I Seno Tenri Bali ) Datu Citta puteri dari La Mappaossang, Mangkaue ri Bone XXII (Raja Bone ke-22). (Sumber : H Maddusila, AM).
Sumber :
Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep. Penerbit Pemkab Pangkep bekerjasama dengan Pustaka Refleksi : Makassar. ISBN. 979967321-6. (Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang).

Sejarah Kekaraengan Balocci

KEKARAENGAN Balocci dikepalai oleh seorang Karaeng, didampingi oleh 9 Kepala Kampung, 5 diantaranya bergelar Karaeng, seorang bergelar Sullewatang dan 3 orang bergelar Gallarang (Benny Syamsuddin, Bulletin KKSS : 1989). Kesembilan kampung dalam wilayah kekaraengan Balocci tersebut ialah Balocci, Padang Tangngaraja, Padang Tangngalau, Bulu – bulu, Birao, Bantimurung, Malaka, Lanne dan Tondongkura. (Makkulau, 2005). Awalnya Lanne dan Tondongkura mengakui kekuasaan Karaeng Labakkang, kemudian kekuasaan Gowa dan Bone. Kedua kampung itu merupakan sebuah persekutuan hukum tersendiri dan mempunyai arajang yang terdiri dari selembar bendera yang dinamai “BolongngE”. (Benny Syamsuddin, Bulletin KKSS : 1989).
Kampung Lanne dan Tondongkura itu merupakan sebuah persekutuan hukum tersendiri. Ketika Labakkang mengakui kekuassan Kerajaan Gowa, Lanne dan Tondongkura menggabungkan diri dalam kekuasaan Kerajaan Bone. Arajangnya terdiri dari selembar bendera dan sebilah kelewang, baru sewaktu ada Controleur ditempatkan di Camba [1], yaitu pada tahun 1862, Lanne dan Tondongkura dimasukkan ke dalam kekuasaan Kekaraengan Balocci. Sementara Kampung Bantimurung dan Malaka didirikan oleh anggota keluarga dari Karaeng Balocci. Yang merupakan Hadat Balocci adalah Galla’ Bulu – Bulu, Galla Padangtangaraja dan Galla Balocci. Arajang dari Balocci terdiri dari selembar petaka merah yang dinamai “Calla’ka” yang berasal dari Gowa. Demikian Notitie Goedhart dan Abdur Razak Dg Patunru mencatatnya. (Benny Syamsuddin, Bulletin KKSS : 1989 dalam Makkulau, 2005).
Sampai penulisan buku ini dalam tahap penyelesaian, tidak didapatkan keterangan atau sumber informasi yang dapat menuturkan perjalanan sejarah kekaraengan Balocci ini, paling tidak mulai dari Karaeng Balocci I sampai Karaeng Balocci VI. Menurut H Andi Muin Dg Mangati, sebelum Karaeng Tinggia (Karaeng Balocci IX) memerintah, yang masih sempat dikenal ialah Karaeng Ammoterang Dg Pabali (Karaeng Balocci VII) dan Daeng Pabeta (Karaeng Balocci VIII). Karaeng Balocci sebelum ketiga karaeng ini sudah tidak terlacak nama, pemerintahan dan tempat wafatnya. Karaeng Ammoterang Dg Pabali dikenal sebagai karaeng Balocci yang selalu membangkang terhadap Pemerintah Belanda dan akhirnya dibuang ke Selayar [2]. Penggantinya adalah saudaranya sendiri, Daeng Pabeta.
Karaeng Tinggia sendiri memerintah sebelum tahun 1881. Karaeng ini digantikan oleh menantunya, Karaeng Pattoddo, oleh karena Karaeng Tinggia ini tidak mempunyai putera, hanya mempunyai anak dua orang puteri, yaitu Karaeng Tompobalang dan Karaeng Basse Donggo. Puteri pertama, Karaeng Tompobalang inilah yang dikawinkan dengan Karaeng Pattoddo (Karaeng Balocci X), yang memerintah selama 30 tahun, dari tahun 1881 – 1911 yang mana pada periode kekuasaannya masih berjalan pemerintahan Bila – Bila Pitue dan Lebbo TengngaE (Camba).
Di masa pemerintahan Karaeng Pattoddo, dia sempat melaporkan Controleur (Petero Pangkajene) karena menebang dan mengambil 40 Pohon Cendana di wilayah Tonasa (Kawasan situs prasejarah Sumpangbita sekarang). Karaeng Pattoddo mengajukan gugatan ke pengadilan dan akhirnya Petero tersebut divonis mengganti kerugian sebesar 1 (satu) ringgit perak per satu pohon. Tiada berselang lama dengan peristiwa terbunuhnya Petero Camba yang berujung pada pembubaran pemerintahan di Camba dan wilayahnya digabungkan dengan Onderafdeeling Maros, termasuk Balocci. Selama kurang lebih 2 (dua) tahun, karena faktor pertimbangan wilayah, Balocci kemudian digabung dengan Onderafdeeling pangkajene.
Karena Controleur Pangkajene masih ada dendam terhadap Karaeng Pattoddo akibat peristiwa ganti rugi penebangan Pohon Cendana di Balocci maka Petero Pangkajene ini mengupayakan agar Karaeng Pattoddo secepatnya diganti yang mana penggantinya diangkat bukan dari keturunannya. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memilih dan mengangkat Karaeng Balocci dari kalangan kepala – kepala kampung / gallarang yang dinilai memiliki pengaruh dan kelebihan kepemimpinan dibanding dari yang lainnya, dan akhirnya terpilihlah Gallarang Tondongkura, H A Kadir Dg Matteppo sebagai Karaeng Balocci XI.
Peralihan kekuasaan kekaraengan Balocci dari Karaeng Pattoddo kepada HA Kadir Dg Matteppo ditandai pula peralihan pengendalian pemerintahan kekaraengan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Terhitung mulai Tahun 1916, Balocci dimasukkan sebagai salah satu dari lima district adatgemeenschap (kekaraengan) dalam wilayah Onderafdeeling Pangkajene, yaitu Pangkajene, Balocci, Labakkang, Ma’rang dan Segeri. Hal ini didasarkan pada Recht-gemeenschapen (peraturan – peraturan hukum) Onderafdeeling Pangkajene sebagaimana termuat dalam Staatsblad (lembaran negara) No 352 Tahun 1916.
Pada masa pemerintahan Karaeng Balocci XI, H. A. Kadir Dg Matteppo, mengalami banyak gangguan terhadap pemerintahannya yang dilakukan oleh pengikut dan keluarga dari Karaeng Patoddo, namun berkat kelihaian dan strategi kawin mawin yang dijalankannya akhirnya lambat laun gangguan pemerintahan itu berkurang sampai akhirnya reda dengan sendirinya [3]. Karaeng H A Kadir Dg Mattepo akhirnya dapat memerintah dengan tenang selama 26 tahun, yaitu dari tahun 1911 – 1937. Beliau ini digantikan oleh puteranya dari isteri pertamanya, yaitu H A Rahim Dg Masalle sebagai Karaeng Balocci XII [4].
Periode pemerintahan H A Rahim Dg Masalle merupakan pemerintahan kekaraengan Balocci yang terakhir. Beliau ini memerintah selama 25 tahun, yaitu dari tahun 1937 – 1962. Situasi pemerintahannya mengalami beberapa masa yaitu masa penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, masa datangnya pasukan sekutu / NICA , masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan masa pemberontakan Kahar Muzakkar (hingga Desember 1951) [5].
Setelah masa kekacauan yang ditimbulkan oleh gerakan DI / TII Pimpinan Kahar Musakkar dapat dipulihkan, maka timbul pula gerakan – gerakan lain yang meronrong pemerintahan kekaraengan Balocci yang dipimpin oleh M Yunus Dg Pasanrang. Namun kekacauan tersebut berakhir dengan sendirinya setelah turunnya restu HA. Mallarangeng Daeng Matutu [6] terhadap M Yunus Dg Pasanrang sebagai Kepala Distrik Balocci, yang selanjutnya menjadi Kepala Wilayah Kecamatan Balocci (Periode 1962 – 1965).

Catatan Kaki :
[1] Controleur Camba ketika itu membawahi tujuh wilayah adatgemeenschap / kekaraengan, yaitu Cenrana, Camba, Laiyya, Mallawa, Balocci, Gattareng Matinggi dan Wanua Waru. (Wawancara penulis dengan H Andi Muin Dg Mangati)
[2] Menurut H Andi Muin Dg Mangati, Salah satu ‘kenakalan’ Karaeng Ammoterang Dg Pabali adalah tindakannya yang menyuruh pengikutnya untuk mencuri ternak – ternak Belanda kemudian dipenggal kepalanya, dan kepala – kepala ternak Belanda itu ditanam dibawah kolong rumahnya. Akibat tindakannya tersebut memicu kemarahan Belanda karena merasa dipermalukan, mendapati ternaknya mati tanpa kepala di kandangnya. (Wawancara dengan Penulis).
[3] Strategi kawin mawin yang dijalankannya ialah dengan mengawinkan anak / keturunan H. A. Kadir Dg Patteppo dengan anak / keturunan Karaeng Pattoddo. Akibatnya keluarga / pengikut Karaeng Pattoddo merasa bahwa tidak perlu ada lagi yang dikhawatirkan karena penerus kekaraengan tetap masih dalam keturunannya. (Wawancara penulis dengan H Andi Muin Dg Mangati, 2007).
[4] Karaeng Balocci XI, H.A. Kadir Dg Patteppo memiliki 10 anak dari dua orang isteri. Dari isteri pertamanya, Puang Moncong lahir anak tunggal, yaitu H.A. Rahim Dg Masalle yang kemudian diangkat sebagai Karaeng Balocci XII menggantikan ayahnya. Dari isteri keduanya, A. Abeng Dg Manutte lahir 9 orang anak, yaitu Puang Lae, Puang Minya’, Puang Sau’, Puang Taba, Puang Sohra, Puang Massang, Puang Ngasina, Puang Sompa, dan Puang Ngerang. (Wawancara penulis dengan H Andi Muin Dg Mangati, 2007).
[5] Pada masa yang terakhir ini, pemerintahan Distrik adatgemeenschap Balocci sempat dipindahkan ke Pangkajene disebabkan kompi dari Batalyon 427 ditarik kembali ke Pangkajene untuk menghadapi pasukan Kahar Musakkar, malahan beredar informasi bahwa pasukan Kahar Musakkar akan menyerang Pos TNI di Balocci. Pada tahun 1954 kembali Kekaraengan adatgemeenschap Balocci dipusatkan kembali di Balocci karena Batalyon 514 berhasil merebut daerah itu dari tangan pasukan Kahar Musakkar. Kesatuan silih berganti dari kesatuan Brawijaya dan pada Tahun 1958 kesatuan Batalyon 715 mengambil alih pengamanan di Balocci. Pada pertengahan 1959, Pos TNI di Balocci diserang secara besar – besaran dengan dipimpin langsung oleh Kahar Musakkar. Ratusan korban yang jatuh di kedua belah pihak. Banyak rakyat Balocci digiring masuk hutan, namun pada akhirnya Batalyon 715 dapat membebaskannya. (Informasi ini sebagaimana yang dituturkan H Andi Muin Dg Mangati kepada penulis, 2007).
[6] H. A. Mallaraengeng Dg Matutu adalah Kepala Daerah / Bupati Pangkep yang pertama (1960 – 1966).

Sumber :
Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep. Penerbit Pemkab Pangkep bekerjasama dengan Pustaka Refleksi : Makassar. ISBN. 979967321-6. (Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang).

Asal Muasal Nama Balocci

KECAMATAN Balocci ---juga Kecamatan Tondong Tallasa serta sebagian wilayah pegunungan Bungoro--- melengkapi sebutan “Pangkep sebagai Kabupaten Tiga Dimensi” karena wilayah ini merupakan daerah dataran tinggi. Kecamatan Balocci ini terletak di sebelah selatan dan timur Kota Pangkajene, berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Bone. Daerah Balocci ini terkenal dengan potensi pertanian dan perkebunannya, selain potensi kawasan karst dan hutan lindung didalamnya.
Kata “Balocci” secara harfiah diduga berasal dari kata “Ballo Kecci”, yang berarti arak kecut. Dahulu daerah ini merupakan tempat asal para pemberani (to-barani - tobarani) yang mempunyai kebiasaan minum arak (anginung ballo’), sabung ayam (assaung jangang / massaung manu), judi (abbotoro’). Kebiasaan ini adalah kebiasaan umum masyarakat pada masa itu. Tidak disebut seseorang itu pemberani jika tidak melakoni kebiasaan – kebiasaan tersebut diatas. Para pemberani di Balocci itu mendapatkan julukan “Koro – korona Balocci”, karena kebiasaan yang terkenalnya meminum “Ballo Kecci” dan memang ballo’ yang terkenal di Balocci pada masa itu adalah Ballo Kecci. (Wawancara H Andi Muin Dg Mangati)
Pada masa itu berkembang cerita---semacam sumpah---bahwa jika sudah tidak ada “Koro – korona Balocci” di Balocci maka ada tiga hewan yang juga tidak bolah berbunyi di Balocci. Tiga hewan itu ialah tokke’, jala’ dan bukkuru’. Sampai sekarang ketiga hewan ini tidak pernah terdengar di daerah Balocci, malahan menurut penduduk setempat jika mereka ke daerah (kecamatan) lain kemudian mendengar suara tokke’, maka suara tokke’ tersebut seketika akan berhenti jika dikatakan, “nia tau Balocci anrinni”. (Makassar : Ada orang Balocci disini) atau “engka’ to-Balocci koe” (Bugis : Ada orang Balocci disini). (Wawancara penulis dengan H Andi Muin Dg Mangati).
Versi lain sehubungan dengan cerita ini menurut Dg Palopo ialah jika ada keturunan Tobarani Balocci (Koro-korona Balocci) yang tinggal di luar Balocci kemudian melihat burung jala’ maka burung jala’ tersebut tidak akan berumur lama (paling lambat dua hari setelah dilihat maka burung tersebut sudah mati). Entah benar atau tidak, yang pasti cerita ini telah berkembang menjadi semacam mitos atau legenda tentang Tobarani Balocci, barangkali hal ini berkaitan dengan “pengetahuan tertentu” atau kesaktian yang terwariskan secara turun temurun. (Wawancara penulis dengan M Taufiq S Dg Palopo).

Sumber :
Makkulau, M. Farid W. 2008. Sejarah Kekaraengan di Pangkep. Penerbit Pemkab Pangkep bekerjasama dengan Pustaka Refleksi : Makassar. ISBN. 979967321-6. (Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang).